28. April 2026
Sinau Akal Sehat
Antara Indra Lahiriyah dan Indra Batiniyah
Manusia adalah hewan yang memiliki akal. Dengan akalnya, manusia mampu membedakan segala sesuatu yang menguntungkan dan merugikan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Sina menegaskan bahwa manusia memiliki daya fakultatif (memilih) yang terdapat pada indra batinnya.
Daya indra batin inilah yang memungkinkan berfungsinya daya indrawi yang bersifat lahiriyah meliputi:
- Indra perasa
- Indra penciuman
- Indra pendengar
- Indra peraba
- Indra penglihatan
Seluruh daya indrawi lahiriyah ini berkumpul pada satu elemen yang sama “indra batin”, atau biasa disebut dengan Al-Hissy Al-Musytarok (Common Sense).
Mengolah Data Kehidupan
Tanpa keberadaan indra batin ini, manusia tidak mungkin dapat mengetahui madu, kemudian menetapkan status bahwa madu itu manis. Mengapa bisa demikian?
Karena daya fakultatif indra lahirlah yang menerima data berupa rasa manis serta warna yang melekat pada objektifitas yang dialaminya. Misalkan madu yang berwarna orange atau kekuning-kuningan, daya fakultatif kita dapat menentukan bahwa madu tersebut adalah manis, ataupun jika madu tersebut hitam, daya fakutatifpun dapat menentukan madu tersebut adalah pahit.
Tanpa adanya indra batin, mungkin kita tidak bisa membedakan atau melakukan klasifikasi atas varian data yang diunduh oleh indra lahir. Singkatnya, indra batin dan lahir adalah naluri hewaniyah yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia. Tinggal manusianya saja yang mampu untuk berpikir secara sehat atau tidak.
Memahami Common Sense (Akal Sehat)
Common Sense dalam bahasa Indonesia disebut dengan akal sehat. Secara umum, ini adalah kemampuan penilaian yang masuk akal (rasional) dan praktis terhadap suatu situasi atau masalah sehari-hari yang dapat dibuktikan validitasnya (empiris).
Sederhananya, common sense adalah:
- Kemampuan untuk memahami dan menilai situasi secara wajar.
- Bertindak tanpa memerlukan pengetahuan khusus atau ilmiah yang rumit.
- Pengetahuan dasar manusia di mana naluri indrawi dan kesadaran menghasilkan keyakinan universal.
Contoh sederhananya adalah kesadaran untuk memakai jaket dikala cuaca sedang dingin. Hal-hal fundamental inilah yang menjaga keberlangsungan hidup manusia sebagai makhluk yang berakal. Lalu apakah kepercayaan-kepercayaan mistika masyarakat adalah satu bukti daya memahami, menilai, dan bertindak secara sehat? Iya, jika memang kita lihat dari sudut pandang budaya dan latar belakang sosialnya. Karena minimnya kosakata (khususnya bahasa akademik) masyarakat lebih banyak mencegah dengan cara yang biasa mereka lakukan, tak terlepas dari kehidupan dan spiritualisme mereka pada zamannya.
Catatan Harian
Ibnu Shomad
“Setiap baris kalam adalah upaya untuk menjaga bara api peradaban.”